Rabu, 11 Juli 2012

RESENSI NOVEL “NEGERI 5 MENARA”





1. Identitas Buku
  • Judul Buku                  : Negeri 5 Menara
  • Nama Pengarang         : Ahmad Fuadi
  • Tahun Terbit                : 2009
  • Nama Penerbit             : PT. Gramedia Pustaka Utama
  • Tempat Terbit              : Jakarta
  • Tebal Buku                  : 423 Halaman
2. Sinopsis
Pengarang Novel ini yang berperan sebagai Alif tidak menyangka dan tak percaya bisa menjadi seperti sekarang ini. Pemuda asal Desa Bayur, Maninjau, Sumatera Barat itu adalah pemuda desa yang diharapkan bisa menjadi seorang guru agama yang baik dan berpendidikan seperti yang diinginkan kedua orangtuanya. Keinginan kedua orangtua Alif tentu saja tidak salah. Jelas apabila seorang Ibu, menginginkan agar anak-anaknya menjadi orang yang sukses, berhasil dan dihormati di kampung seperti menjadi guru agama.
Kisah ini berawal dari Minang sekitar danau Maninjau yang mengisahkan tantang perjalanan hidup seorang anak laki-laki bernama Alif, yang bersekolah di madrasah tsanawiyah. Ia lulus dengan nilai ujian sepuluh terbaik di Kabupaten Agam. Alif dan Randi mempunyai keinginan melanjutkan sekolahnya di SMA.
Ternyata keinginan Alif itu berbeda dengan keinginan i bunya. Ia ingin melihat dunia luar dan ingin sukses seperti  tokoh yang ia baca di buku atau mendengar cerita temannya di desa. Namun, keinginan Alif tidaklah mudah untuk diwujudkan. Kedua orangtuanya berkata lain, Beliau menginginkan agar Alif tetap tinggal dan sekolah di kampung untuk menjadi guru agama. Alif mendapat saran dari Pak Etek Gindo (Paman Alif) agar melanjutkan sekolahnya di Pondok Madani, Gontor, Jawa Timur. Akhirnya Alif mengikuti saran dari pamannya. Disana Alif berkenalan dengan Raja alias Adnin Amas, Atang alias Kuswandani, Dulmajid alias Monib, Baso alias Ikhlas Budiman dan Said alias Abdul Qodir.
Siswa-siswa yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Gontor ini setiap sore mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang unik. Menjelang Adzan Maghrib, mereka berkumpul di bawah menara masjid sambil melihat ke awan. Dengan membayangkan awan itulah mereka melambungkan impiannya. Misalnya Alif mengaku jika awan itu bentuknya seperti benua Amerika, sebuah negara yang ingin ia kunjungi setelah lulus nanti. Begitu pula lainnya menggambarkan awan itu seperti negara Arab Saudi ataupun Mesir.
Melalui kehidupan di pesantren yang tidak dibayangkan selama ini, ternyata lima santri-santri itu bertemu kembali di London, Inggris beberapa tahun kemudian. Kemudian mereka bernostalgia dan saling membuktikan impian mereka seperti saat mereka masih berada di bawah menara masjid Pondok Pesantren Gontor, Jawa Timur dan menggambarkan awan-awan dilangit itu seperti impian mereka terdahulu.

3. Kelebihan Buku
  • Novel Negeri 5 Menara ini sangat menarik, mengharukan, dan sangat inspiratif.
  • ·         Banyak nilai-nilai keislaman yang terkandung dalam novel ini.
  • ·    Pondok Madani tidak hanya sebuah sekolah agama (yang biasanya menjadi pilihan terakhir orang atau sebagai bengkel akhlak orang yang telah rusak), namun juga menjadi miniatur kehidupan nyata.
  • Memberikan perspektif baru terhadap dunia pesantren berupa penjelasan bahwa sekolah di pesantren itu tidak hanya diperuntukkan kepada anak-anak yang bermasalah. Tetapi untuk semua kalangan yang ingin belajar, baik dalam ilmu agama ataupun non agama.
  • Memberikan semangat untuk meraih impian, dengan cara setiap hari menyerukan kalimat Man Jadda Wajadda (jika siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil).
  • Memberikan keyakinan untuk mewujudkan impianDari membaca novel ini, kita bisa dapat mengambil kesimpulan: bahwa setinggi apapun impian kita dan cita-cita kita, bisa diraih dengan kerja keras (usaha), disiplin tinggi, dan doa.
4. Kekurangan Buku
  • Cerita tentang kenangan masa lalu yang seharusnya tidak perlu diceritakan karena tidak penting dan tidak ada kaitan dengan inti cerita.
  • Beberapa bacaan tentang Bahasa Arab tidak diterjemahkan.
  • Beberapa bacaan menggunakan bahasa yang sedikit sulit untuk dipahami.
  • Novel Negeri 5 Menara ini, alur ceritanya cepat berubah.
 5. Saran
  • Cerita yang tidak perlu, sebaiknya tidak dibahas.
  • Istilah Bahasa Arab dijelaskan lebih lengkap sehingga pembaca tidak bingung.
  • Bahasa yang sulit dipahami agar disederhanakan kembali.
  • Alur cerita lebih konsisten.

1 komentar: